Perjuangan Guru Mengajar Di Sekolah Dasar Terpencil Di Sekotong

NTBone.di-Lombok Barat,- Manusia terbaik adalah manusia yang menjadikan Hidup bermanfaat bagi orang lain. Kepekaan untuk selalu ada dan memberi tanpa pandang bulu tidak semua orang bisa melakukannya.

Menjadikan hidup bermanfaat dengan memberikan manfaat kepada orang lain mungkin pegangan hidup yang digenggam erat oleh Lalu Gunawan dan Surabdi serta sejumlah guru di Sekolah Dasar Negeri 13 Buwun Mas kecamatan Sekotong kabupaten  Lombok Barat. NTB. Selasa (22/11)

Untuk menuju Sekolah Dasar Negeri 13 Buwun Mas  yang terletak di perbatasan pulau bernama Shopialouisa terluar Indonesia itu, Lalu Gunawan dan sejumlah Guru lainnya membutuhkan waktu tempuh hingga puluhan kilometer harus, berjibaku dan bertaruh nyawa naik turun bukit untuk melewati jalan yang cukup terjal, bebatuan dan berlumpur, demi mencerdaskan anak bangsa.

Kepala sekolah sekaligus Guru SDN 13 Buwun Mas Lalu Gunawan menyebutkan bahwa kondisi jalan yang memprihatinkan adalah kendala yang memerlukan perhatian lebih dari pemerintah daerah. Tidak termasuk jalan kabupaten tapi jalan desa membuat jalan menuju sekolah ini belum banyak disentuh perbaikan ataupun pembangunan jalan.

Pemkab Lombok Barat dalam hal ini bupati dan wakil bupati diharapkan untuk memberikan perhatian untuk dilakukan perbaikan sehingga memudahkan para guru dan siswa beraktivitas ke sekolah.

“Kalau turun hujan maka jalan ini akan berlumpur. Kendaraan dinas yang digunakan tidak bisa berjalan mulus bahkan harus dipikul karena tidak bisa melewati jalan yang becek dan berlumpur. Kalau kita lewat pantai harus mengeluarkan biaya sekitar 200 ribu untuk sekali jalan untuk bayar sampan untuk menyeberang. Dan pulang pergi gunakan sampan kita mengeluarkan biaya hingga 500 ribu perhari meski hanya sendiri,” jelasnya.

Ruang belajar yang terbatas juga menjadi PR yang masih belum diurai. Dimana satu kelas di isi oleh anak-anak kelas satu dan kelas dua dengan disekat di tengah ruang kelas. Namun itu tidak menurunkan semangat para guru dan peserta didik untuk belajar dan mengajar.

“Keterbatasan biaya, membuat siswa menggunakan apa adanya, bahkan tidak menggunakan sepatu, hanya menggunakan sendal jepit, bahkan lebih ironisnya banyak siswa tanpa menggunakan alas kaki,” bebernya

Lalu Gunawan mengakui jika sebagai besar siswanya berasal dari desa setempat. Total siswa yang dimiliki mencapai 67 orang siswa. Sedangkan gurunya sebanyak 10 orang terdiri dari 9 orang guru dan 1 orang operator serta 3 orang honor.

“Rata-rata jika sudah tamat disini, kadang tidak bisa melanjutkan sekolah, karena sekolah SMP sangat jauh, sehingga banyak anak disini memilih menikah,” pungkasnya

Sementara itu, salah satu Guru Subardi mengaku sudah 2 tahun mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dilakoninya sejak diangkat pada tahun 2019 lalu, ia memilih mengajar di SDN 13 Buwun Mas yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota kabupaten.

Dengan tekad merubah diri menjadi insan yang lebih baik, Subardi membulatkan tekadnya untuk menjadi guru di daerah yang jauh dan terpencil ini.

“Awalnya ingin merubah diri sendiri untuk menjadi orang baik. Tidak bisa merubah orang maka merubah diri sendiri dulu niatnya,” ujarnya.

Sekolah dasar tempatnya mengajar ini tidak setiap hari ditempuh dari rumahnya. Sebab lokasinya yang cukup jauh maka dirinya memilih satu kali dalam seminggu, seterusnya ia harus menginap.

“Enggak setiap hari kadang hari senin berangkat dari rumah dan pulangnya kalau tidak hari Jumat maka hari Sabtu. Kalau setiap hari dan bolak balik tidak bisa jadi harus menginap. Saya tinggal di Narmada dan ada keluhan penyakit wasir sehingga tidak terlalu kuat untuk bolak balik menggunakan sepeda motor,” ungkapnya.

Subardi menjelaskan, jalan menuju sekolah tempat dirinya mengabdi tidak sesuai yang diharapkan. Sehingga pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih untuk diperbaiki sehingga pergerakan para guru dan peserta didik bisa berjalan lancar.

“Jalannya supaya diperbaiki biar enak gitu, kita bolak balik tidak terganggu. Kalau sudah baik jalannya walaupun dia jauh maka kita enak berkendara. Kita juga bisa bolak balik dua atau tiga kali dan tidak terlalu lama menginap di sekolah,” paparnya.

Jalan yang belum baik ini menjadi kendala yang cukup berarti. Ia bahkan pernah jatuh meski jalan tersebut landai. Jika hujan turun maka jalan menjadi becek terlebih saat menanjak ataupun turun.

Cuaca yang tidak menentu juga mengakibatkan kondisi jalan bisa membahayakan sehingga pemerintah daerah agar melakukan perbaikan.

“Pernah ketika naik belum hujan dan sampai di atas turun hujan. Jadi turunnya ngeri sekali karena hujan,” imbuhnya.

Subardi mengakui bahwa pernah terbesit di hati yang paling dalam untuk mengakhiri pengabdiannya sebagai guru di SDN 13 Buwun Mas. Jika Pun tidak lagi mengajar di sana tapi bisa dipindah ke sekolah dasar lainnya.

Akan tetapi itu semua sirna seiring dengan secercah cahaya untuk mengabdikan diri untuk tunas-tunas bangsa terlebih bagi dirinya menjadi orang yang berguna untuk orang lain.

“Ini sudah menjadi pilihan hidup saya meski ada terbersit untuk berhenti atau pindah mengajar. Keceriaan dan harapan dari peserta didiknya adalah penyemangat dan membuat saya bertahan untuk terus mengajar,” urainya.

Dalam kesempatan itu, jajaran polsek Sekotong memberikan bingkisan kepada guru, sebagai bentuk apresiasi jasa guru yang telah mencerdaskan anak bangsa terutama di sekolah terpencil serta memberikan tas kepada siswa.

Tinggalkan Balasan